Rabu, 22 Februari 2012

Rumusan Strategi Alternatif Gubernur BI


Setiap Negara memiliki Bank Senteral, tak terkecuali Indonesia. Bank Sentral di Indonesia adalah Bank Indonesia (BI). Menurut Undang Undang no.3 Tahun 2004 tentang BI, tujuan BI adalah mencapai dan memelihara nilai rupiah. Untuk mencapai tujuan tersebut, BI bertugas : a) menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter, b) mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, dan c) mengatur dan mengawasi bank-bank di Indonesia.

BI telah menglami pasang surut dalam membangun perekonomian nasional. Kemajuan-kemajuan BI yang pernah dicapai diantaranya adalah : di tahun 2011 Indonesia menjadi salah satu dari 3 negara selain Cina dan India yang mengalami perkembangan ekonomi yang stabil di tengah krisis moneter dunia. Di tahun yang sama pada kuartal IV Infalsi di Indonesia berada pada angka 3,79% yang berarti terendah di Asia Pasifik. Selain itu di awal tahun 2012 di bawah Gubernur BI Darmin Nasution, Indonesia mengalami kenaikan peringkat untuk Negara yang layak investasi dari Moody’s (salah satu lembaga pemeringkat dunia).

Dengan segala kelebihannya, BI juga mengalami beberapa masalah yang mencoreng perekonomian khususnya perbankan nasional. Contohnya adalah kasus Baillout Bank Century. Walaupun bank swasta, kasus tersebut tidak lepas dari peran dan tanggung jawab Bank Indonesia. Contoh lainnya adalah kasus cek pelawat untuk pemenangan pemilihan Gubernur BI periode yang lalu.

Dalam mengatasi masalah-masalah di atas dan mengantisipasi masalah yang akan timbul di masa yang akan datang diperlukan Gubernur BI yang kompeten dari segi intelegensinya, emosionalnya, dan spiritualnya.

Seandainya Penulis menjadi Gubernur BI, Penulis memiliki beberapa strategi untuk menyelesaikan masalah, menstabilkan perekonomian nasional dan mengantisipasi masalah yang mungkin timbul di kemudian hari. Strategi pertama adalah mengendalikan inflasi pada tingkat 3,5%  dan menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) hingga 5,5 % (2% diatas inflasi). Untuk merealisasikan strategi tersebut dalam hal ini menurunkan tingkat inflasi, Gubernur BI dapat menempuh beberapa teknik, diantaranya : a) menaikan suku bunga acuan (BI Rate), b) menyelenggarakan politik pasar terbuka, dan c) menaikan Cash Ratio.

Sementara itu, BI Rate akan turun jika inflasi ke depan tidak melampaui sasaran operasional kebijakan moneter yang dicerminkan pada perkembangan suku bunga Pasar Uang Antar Bank Overnight (PUAB O/N). Politik pasar terbuka bisa dilakasanakan  dengan cara menjual atau membeli surat-surat berharga milik pemerintah sedangkan cash ratio direlisasikan dengan menentukan batas cadangan kas minimum yang ada pada setiap bank.   

Strategi kedua adalah meningkatkan efisiensi sistem pembayaran nasional. Wewenang BI dalam sistem pembayaran tunai adalah mengeluarkan, mengedarkan, mencabut, menarik dan memusnahkan uang yang beredar di Indonesia. Jika Penulis menjadi Gubernur BI untuk mengefisiensi sistem pembayaran nasional, Penulis akan membuat inovasi yang progresif. Contohnya mewajibkan semua bank agar membuka transfer online (internet) dengan batasan transfer sekurang-kurangnya Rp. 10.000. Bank yang dimaksud adalah bank-bank pemerintah maupun swasta yang jauh dari kolaps.

Strategi ketiga adalah mengatur batas minimum suku bunga kartu kredit. Jika Penulis menjadi Gubernur BI, Penulis akan menentukan batasan minimum suku bunga kartu kredit dengan kisaran antara 2%-6%. Hal tersebut dilengkapi dengan memperpanjang batasan usia pengguna kartu kredit sampai 20 tahun. Batas minimum income pengguna kartu kredit yang paling tidak memiliki Income Rp. 8.000.000,- per bulan. Alasannya adalah menurut hemat Penulis sebagian besar pengguna kartu kredit lebih mementingkan konsumerisme dari pada membayar, sehingga banyak pengguna kartu kredit yang terjerat hutang bank.

Strategi keempat yaitu menjaga kelancaran intermediasi antar bank. Jika Penulis menjadi Gubernur BI, Penulis akan menerapkan sistem atau konsep intermediasi antar bank yang sudah ada dan mengefisiensinya. Realisasinya adalah dengan menyelenggarakan pertemuan secara berkala para pemimpin Bank  di seluruh Indonesia. Agenda utamanya adalah membahas dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh setiap bank terutama bank yang kritis atau hampir kolaps.

Strategi Kelima, yaitu memberantas mafia di tubuh Perbankan Indonesia. Jika Penulis menjadi Gubernur BI, Penulis akan mengadakan koordinasi dan kerja sama yang sistematis dan berkelanjutan dengan lembaga-lembaga hukum di Indonesia seperti Polri, KPK dan Kehakiman.

Strategi terakhir adalah meningkatkan kualitas SDM Perbankan Indonesia. Jika Penulis menjadi Gubernur BI, Penulis akan menempuh 2 hal pokok, yaitu mengadakan penyeleksian pegawai perbankan secara ketat dan bersih, sehingga pegawai-pegawai baru tersebut memiliki kemampuan dan kejujuran dalam melaksanakan tugasnya. Hal berikutnya adalah mengadakan peklatihan-pelatihan pegawai perbankan yang sudah ada. Dengan materi-materi yang tidak hanya berkaitan dengan intelegensi tapi juga dengan emosional dan spiritual bahkan finansial. Sehingga etos kerja dan produktifitas kerja mengalami peningkatan baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya.

Keenam strategi di atas merupakan konsep yang Penulis rumuskan berdasarkan pengamatan penulis terhadap perkembangan perekonomian perbankan khususnya BI dengan segala kekurangan dan kelebihannya.